SkS: Tentang Murid, Hati, dan Pengabdian
Dipublikasikan pada: 24 November 2025Program Setneg ke Sekolah menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan pengabdian saya. Melalui program ini, saya tidak hanya belajar memahami dinamika dunia pendidikan secara langsung, tetapi juga menemukan cara untuk mengasah empati, komunikasi, dan ketangguhan diri. Menjadi bagian dari program Setneg ke Sekolah adalah pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saat pertama kali menerima penugasan menjadi guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 80 Jakarta, jujur saya merasa campur aduk antara antusias, gugup, dan penasaran. Namun kesempatan untuk turun langsung ke sekolah, bertemu dengan siswa, dan berdiri sebagai guru di depan kelas, menghadirkan pengalaman yang benar-benar baru dan sangat berbeda. Ada perasaan yang cukup sulit dijelaskan, kembali ke masa sekolah, mengemban tanggung jawab baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.
Sejujurnya, sebelum kegiatan dimulai, saya sempat membayangkan bahwa mengajar di kelas akan berjalan dengan pola biasa. Seperti, guru menjelaskan, lalu siswa mendengarkan. Saya pikir, sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), tugas saya cukup menyampaikan materi dan memastikan siswa memahami tentang materi Pendidikan Pancasila. Namun kenyataannya jauh berbeda. Siswa-siswa di SMAN 80 Jakarta memiliki energi, rasa ingin tahu, dinamika emosi, dan kebutuhan belajar yang sangat beragam. Ada yang sangat aktif, ada yang pemalu, ada yang kritis, bahkan ada yang membutuhkan arahan lebih. Dari sini saja saya sudah tahu bahwa pengalaman ini akan mengubah banyak hal dalam diri saya.
Saya menyadari, bahwa saya ditugaskan bukan hanya sekadar melakukan tugas mengajar, tetapi merupakan bentuk komitmen moral, intelektual, sosial dan bentuk pengabdian saya untuk turut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari awal, saya langsung memahami bahwa menjadi guru berarti memikul tanggung jawab yang sangat besar. Siswa tidak hanya memperhatikan isi materi, mereka juga memperhatikan sikap, intonasi, cara saya menatap mereka, bahkan bagaimana saya merespons hal kecil yang terjadi di kelas.
Realitas lapangan ternyata tidak sesuai ekspektasi saya. Mengajar tidak sesederhana membacakan slide atau menjelaskan poin-poin penting sesuai dengan ilmu pedagogi singkat yang saya terima sebelumnya. Ada siswa yang sangat aktif, duduk di depan dengan senyum lebar dan tangan yang selalu terangkat setiap kali saya bertanya. Ada siswa yang pendiam dan hanya mencuri-curi pandang, ada juga yang sibuk sendiri, mengobrol, atau tidak fokus bahkan setelah diingatkan, dan ada siswa yang asyik sendiri dengan gawainya, setelah saya hampiri ternyata sedang bermain game.
Saya cepat menyadari bahwa pendekatan satu arah tidak bekerja. Ketika saya menjelaskan panjang lebar, wajah mereka tampak mulai kehilangan fokus. Tapi ketika saya memulai sesi diskusi kelompok, suasana langsung berubah total, kelas menjadi hidup. Mereka berbicara, tertawa, berdebat, mengemukakan pendapat, dan tiba-tiba saya merasa berada di tengah sekelompok pemikir muda yang luar biasa.
Hal yang paling mengejutkan bagi saya adalah betapa cepatnya mereka berubah ketika saya melibatkan mereka dalam aktivitas interaktif. Membuat kuis berkelompok, menggunakan Kahoot, memberi mereka kasus nyata untuk dianalisis, semua itu membuat kelas berubah drastis. Saya belajar bahwa siswa bukan tidak mau belajar, mereka hanya ingin belajar dengan cara yang relevan dengan dunia mereka.
Tantangan berikutnya adalah adanya murid yang memiliki gaya belajar yang sangat dinamis. Mereka sulit mengelola dorongan secara efektif, sering mengabaikan instruksi, dan menunjukkan perilaku tidak kooperatif saat proses belajar. Daripada memarahinya, saya memilih melakukan pendekatan personal. Saya mencoba memahami latar belakang mereka, berbicara dengan bahasa yang mereka pahami, dan membangun hubungan yang lebih manusiawi.
Hubungan saya dengan siswa tumbuh menjadi sesuatu yang sangat personal. Mereka sering curhat, meminta nasihat, bahkan mengatakan bahwa mereka ingin saya mengajar sampai mereka lulus. Salah satu siswa berkata, “Pak, nanti kalau Bapak enggak ada, kita pasti kangen banget.” Kalimat sederhana itu rasanya mengingatkan saya bahwa kehadiran seorang guru meski sementara bisa berarti sebesar itu dalam hidup seseorang.
Pengalaman penempatan di SMAN 80 Jakarta telah menanamkan dalam diri saya kesadaran mendalam bahwa setiap peran kecil yang dijalankan dengan sungguh-sungguh dapat membawa dampak besar. Melalui interaksi dengan siswa dan guru, saya belajar bahwa dedikasi, inovasi, dan empati bukan hanya prinsip mengajar, tetapi juga prinsip menjadi ASN yang berdampak bagi masyarakat dan institusi.
Dengan pengalaman ini, saya berkomitmen untuk mengabdikan kemampuan dan waktu saya untuk mendukung program-program Kementerian Sekretariat Negara secara profesional, kreatif, dan penuh tanggung jawab. Saya akan terus menginternalisasi nilai-nilai BerAKHLAK, menumbuhkan sikap kolaboratif, adaptif, dan loyal, serta mengupayakan inovasi nyata yang dapat memajukan pendidikan, meningkatkan kualitas layanan publik, dan memberi kontribusi positif bagi kemajuan institusi secara keseluruhan. Pengalaman ini menjadi fondasi bagi saya untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan manfaat nyata bagi bangsa melalui peran saya sebagai ASN.
Opini Terbaru